Senin, 24 Februari 2014

The Hospital (Cerpen)



HOSPITAL
J
arum  jam sudah menunjukan angka 7:35 ketika Kesha bangun.  Dengan terburu-buru dia bangun dan langsung menuju kamar mandi. 5 menit kemudian dia sudah memakai seragam sekolahnya. Pintu gerbang sekolahnya ditutup jam 7:45, hal itu  berarti dia cuman punya 10 menit lagi. Sambil lari dia menuju garasi dan tak lama kemudian mobilnya sudah berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya. Sedang konsentrasi nyetir, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dia berusaha meraba-raba handphone itu. Tapi handphone itu malah jatuh, Kesha menunduk dan berusaha ngambil handphonenya. Tapi begitu dia bangkit tiba-tiba didepannya ada tukang bakso dengan gerobaknya yang sedang menyebrang jalan. Kesha kaget dan refleks membanting stirnya, bermaksud menghindari tukang bakso itu dan “aaaaaaaaaaaarrrrrrrgghhh”  mobilnya malah menabrak pembatas jalan dan akhirnya jatuh ke jurang…
 





3 hari kemudia saat Kesha membuka matanya, dia  terbaring dalam suatu ruangan yang asing baginya. Serba putih. Dia menoleh sekelilingnya. Disampingnya ada Kevin, kakaknya yang sampai tertidur menungguinya. 
“Kev, gue dimana??” Tanya Kesha lirih.
“Owh, loe dah sadar?! Mmm. . . loe da  di rumah sakit. Loe tadi kecelakaan. Tunggu ya, gue panggil dokter dulu.” Kata Kevin sembari keluar
Beberapa menit kemudia dia masuk. Di belakangnya dokter menyusul. Dokternya tampak masih muda, cute, tinggi, berkulit putih dan wajahnya pernakan oriental campur bule gitu. Well,  good lookinglaah. Ok, back to story
“hai mbak… apa yang anda rasakan?” Tanya dokter muda itu dengan ramah.
“tangan saya sakit, Dok” sahut Kesha lirih.
“Coba saya periksa dulu ya.” Kata dokter muda itu sambil memriksa tangan Kesha.
“Anda kakaknya? Bisa ikut keruangan saya sebentar?” kata dokter itu sambil berpaling ke arah Kevin. Lalu Kevin pun mengikuti sang dokter ke ruangannya.
Sesampainya di ruangannya dokter itu menjelaskan bahwa kemungkinan besar untuk beberapa bulan ini tangan kanan Kesha tidak bisa digerakkan karena akibat kecelakaan itu saraf  yang ada di tangannya putus. Kevin shock. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tentang hal ini kepada adiknya. 

“Dokter bilang apa? Apa keadaan gue parah?” Tanya Kesha begitu Kevin sampai dikamarnya dengan muka yang agak murung.
“Nggak koq. Tadi dokternya cuman ngasi resep obat ajja.” Kevin berusaha menutupi keadaan Kesha
“bilang aja yang sebenernya. Gue siap nerima hal terburuk sekalipun.” Desak Kesha.
“Gag ada apa-apa, Key…..” sahut Kevin
“Kev, gue tau loe luar dalem. Gue tau loe boonk.” Kata Kesha lagi
“Ok. .  kata dokter, ,” Kevin menarik nafas sejenak lalu melanjutkan kata-katanya “ Tangan kanan loe lumpuh untuk beberapa bulan ini”
“………”
“……….”
“………”  hening beberapa saat. Namun akhirnya terdengar suara tangisan Kesha…
“Key, . . .” Kevin tidak tega melihat keadaan adiknya. Kesha masih menangis.
“Key, tapi nie cuman beberapa bulan aja koq. Loe pasti sembuh.” Kevin berusaha menghibur adiknya. Dia sendiri juga tidak tahun berapa lama Kesha akan mengalami kelumpuhan.

“3 bulan dari sekarang gue harus mengikuti lomba melukis, kalo gue menang disitu, gue akan dapet beasiswa untuk ngelanjutin sekolah ke Jepang. Gue pengen banget dapet piala itu Kev, kalo sekarang keadaan gue kaya gini gimana gue bisa????”  kata Kesha sambil menangis.
“Loe harus yakin kalo loe bakal sembuh. Loe gag boleh terpuruk kaya gini donk.. Mana Kesha yng gue kenal? Kesha yang ceria, Kesha yang selalu semangat, Kesha yang..”
“Kalo loe ada di posisi gue, apa yang loe rasain?” Kesha memotong ucapan Kevin
“…”

“…..”
“Gue mau jalan-jalan bentar,” Kata Kesha memecah keheningan.
“Mow jalan-jalan kemana? Loe kan masih sakit.” Kata Kevin. Bukannya apa-apa, tapi dalam keadaan kaya gini Kevin takut Kesha berbuat nekat.
“Gue mow ke taman rumah sakit aja koq. Loe gag perlu cemas. Gue gag bakal bunuh diri.” Jelas Kesha. Terlihat sedikit senyuman disudut bibirnya yang tipis.  “loe boleh pulang koq. Jaga kesehatan loe ya! Gue tau loe kecapean jagain gue.”  Lanjut Kesha.



‘Gimana nasib gue ntar ya? Gimana gue bisa ngelukis? Gimana gue bisa menangin lomba itu kalo keadaan gue kaya gini? Mau ngelukis pake kaki? Atau pake mulut? Gue belom siap jadi orang cacat…’ Jerit Kesha dalam hati. “Aaaaaaarrrgghhhhh…………… Kenapa ini semua harus terjadi Tuhan? Aku lebih baik mati kalo gini caranya……….” Teriak Kesha sekeras-kerasnya begitu sampai di atas gedung rumah sakit.
“Hey…   suara loe ngebuat tempat ini gag nyaman lagi tau gag!!!!” seru seseorang yang ternyata sudah ada dari tadi disana.
“Elo siapa? Dan ngapaen loe disini?” Tanya Kesha kaget. Dia tidak sadar kalo dari tadi ada orang lain disana.
Terlihat senyuman dari sudut bibir cowok itu. “Gue Daniel. Gue disini sedang mencari kenyamanan. Gue bosen dikamar terus. Tapi gara-gara loe tempat ini udah gag nyaman lagi.”  Jawab Daniel.
“Loe pasien juga? Loe keliatan gag sehat-sehat aja. And, well. . . sorry dah bikin kenyamanan loe terusik. Gue gak sengaja.” Kata Kesha sambil memperlihatkan rentetan giginya.
“Yaaaaa….. Gue terima permintaan maaf loe. Hhmmm… iya gue sakit. Daniel tampak berfikir sejenak, “tekana darah rendah” lanjutnya.
“What? TEKANAN DARAH RENDAH??? Hahaaa penyakit loe gak keren baget. Kalo cari penyakit tu yang kerenan dikit napa. Hahaaa tekanan darah rendah..” kata Kesha meremehkan.
“hey Girl, mana ada penyakit keren, ada-ada aja loe. Trus loe sakit apa? Kronis banget ya? Mpe teriak-teriak gak jelas gitu kaya tadi. Berisisk tau gak!!” omel Daniel
“hehe.. Iya gue kan dah minta maaf.” Jawab Kesha.
“Iya gue maafin. Loe blom bilank penyakit loe” desak Daniel
“Tangan gue lumpuh sementara.” Jawab Kesha. Terlihat kesedihan diraut mukanya.
“Owh… Kenapa loe sedih? Itu kan cuman sementara. Masih bisa normal kembali. Ada orang-orang dirumah sakit ini yang penyakitya lebih parah dari loe. Bahkan ada beberapa yang divonis umurnya sudah tak lama lagi. Jadi loe harus tetep semangat. Ok!!!!!” kata Daniel dengan penuh semangat.  
Terlihat senyuman dari bibir Kesha “thanks ya. Tapi 3 bulan lagi ada lomba lukis international, gue pengen banget ikutan lomba itu biar gue bisa dikirim ke Jepang. Sedangkan kata dokter, tangan gue sembuh paling cepat dalam waktu 5 bulan. Hhhhh…. Yaa sudahlah, mungkin Jepang bukan takdir gue.” Kata Kesha pasrah.
“oh ya? Kan loe masih punya tangan kiri. So, kenapa gak nyoba pake tangan kiri?” usul Daniel.
“ya gak mungkin laaahh Dan, tulisan aja kaya rambut kuntilanak, apalagi lukisan.. ada-ada aja loe.” Jawab Kesha
“Loe gak akan pernah tau kalo loe gak nyoba!!!!!!!!!!” kata Daniel.
“Gue kekamar dulu ya, udah waktunya minum obat.” Lanjut Daniel seraya meninggalkan Kesha yang masih kepikiran dengan ucapan Daniel tadi.
“Besok loe bakal kesini lagi kan?”  Teriak Kesha
Dari kejauhan Daniel hanya tampak tersenyum.
 
                                                                                                                                   




‘Kenapa gak nyoba pake tangan kiri?’ usulan Daniel tadi siang terus terngiang di telinga Kesha. Keesokan paginya dia meminta Kevin untuk membawakannya kanvas dan peralatan lukis lainnya.
“Loe mow ngelukis pake mulut, Key?” ejek Kevin sembari meletakkan peralatan lukis di meja. Tapi Kesha cuman tersenyum mendengar ejekan kakaknya.  Sejak detik itu Kesha mulai berlatih melukis dengan tangan kirinya. Walaupun awalnya dia sempat ragu tapi Daniel selalu ada disampingnya untuk mensuportnya sampai akhirnya perlahan-lahan Kesha bisa.  Setiap hari dia mengunjungi Daniel di rumah sakit.
 




Dan akhirnya hari dimana perlombaan melukis itu pun tiba. Kesha lumayan deg-degan menunggu hasilnya.
“Dan yang akan bersekolah di Japan seminggu dari sekarang adalah….” Suara juri menggelegar membuat jantung para peserta hampir lompat dari dadanya masing-masing. “Grace Kesha Frizzyliaaaaaaaaaa….” Lanjut sang juri yang membuat Kesha hampir pingsan karna shock.
“Kev, gue menang Kev. Gue Menaaaanngg….. Kev gue bakal ke Japan Kev, sumpriiiittt gue seneng banggeetttt,,,,,”  teriak Kesha setelah dari stage lalu mmeluk Kevin
“Iya Key, selamet yaa.. akhirnya loe bisa buktiin kalo loe mank jago.” Kata Kevin sambil membalas pelukan Kesha.
“karang gue bisa buktiin ke momy kalo gue juga punya bakat.” Kata Kesha berapi-api.
Kevin hanya tersenyum. Kemudian peserta lainnya juga mengucapkan selamat pada Kesha.

Setelah selesai makan siang, dia minta Kevin mengantarnya ke rumah sakit untuk menemui Daniel. Dia mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Daniel karena Danielah yang memberinya ide melukis dengan tangan kiri dan Daniellah yang terus mensupportnya selama ini.
Sesampainya di kamar Daniel, Kesha bingung karena kamar itu sudah kosong. Dia lalu bertanya kepada perawat.
“Daniel mana suster? Apa dia udah sembuh? Kalo boleh tau, alamat rumahnya dimana?” Tanya Kesha.
“Anda temannya Daniel?” Tanya perawat itu
“Iya, saya temennya. Sekarang Daniel mana?” Tanya Kesha
“tadi malam Daniel meninggal. Dan rencananya dia akan dimakamkan siang ini” jelas sang perawat.
Kesha shock mendengarnya. “a..a….apaaaa? meninggal? Tapi selama ini dia terlihat sehat. Memangnya dia sakit apa?”
“dia tidak cerita ya? Daniel mengidap leukimia stadium lanjut, dia meninggal tadi malam. Jawab perawat itu.

 







“Daniel, kenapa loe jahat baget ama gue? Kenapa loe ninggalin gue? Kenapa loe gak cerita soal penyakit loe?  Loe yang ngajarin gue untuk semangat, tapi…” Kesha gak bisa menahan tangisannya sesampai dia tiba di pemakaman Daniel. Daniel udah pergi untuk selamanya. Kesha ingat tentang kata-kata Daniel bahwa, Daniel menganggap setiap hari adalah hari yang terakhir baginya. Maka dia akan berusaha untuk menjadikan hari-harinya berharga. Sebelum meninggal dia ingin berguna untuk orang di sekelilingnya. Dan hal itu terbukti, dia sangat berharga bagi Kesha. “Selamat jalan Daniel, semoga kau bahagia di sana. Gue gak akan pernah lupa senyuman loe yang ngebuat gue semangat. Dan mulai karang gue bakal ngejadiin hari-hari gue lebih berharga. I promise…” bisik Kesha.

When it’s time to live and let die,
And You can’t get another try
Something inside this heart has die
You’re in ruins…
                                (21 Guns_Green Day)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar